Dan aku juga bisa
Duduk pongah laiknya Cleopatra,
Mengunci pintu-pintu dibilik hatiku
pada tiap-tiap Kaisar Roma yang mendobrak paksa
Meski letih tubuhku tuk terus bertumpu
pada gemetar lutut kakiku
Demi menyaksikan hujan aksioma
yang tak jua reda
Tentang naif sabdamu
yang kau bisikan lewat pekat asap perapian,
Lalu mirisnya syair lamamu
yang masih saja terperangkap cinta gila pada dua perempuan
Maka aku juga bisa,
Tegak penuh hentak dihadpmu
Untuk sekedar bilang:TIDAK
Aku tidak menyuruh tamu datang ke gubukku, sebab bukan ketenaran yg ku impikan, Namun,jika kaulah musafir yg berkenan singgah ke taman puisiku, kan ku suguhkan secawan anggur dg wangi kesturi. Bersama, kita luapkan rasa dg indah kata di persimpangan semesta. Sebelum akhirnya perahu kita bersauh di batas usia. Dan jika engkau terkesan dg jamuan kalimat yang kubuat wahai pengembara, ku mohon tinggalkanlah jejak kata, Agar kebersamaan selalu melingkupi kita!
Tampilkan postingan dengan label PUISI AMUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI AMUK. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Maret 2010
Rabu, 23 Desember 2009
PUTUS
Kalau sudah begini,
Ku mau selamanya sendiri
Apalah arti keselarasan
tanpa penjewantahan aku & kau menjadi kita,
Saat terkulai aku dalam ketidakberdayaaan
Meracau kau dengan seribu alasan!
Menasbihkan kita dalam kepura-puraan!
Dan kalau sudah begini,
Ku mau kau pergi!
Apalah arti keberduaan,
tanpa ketulusan cinta
Dimana egomu,
pun ku mengalahkan segala,
Ah,
kalau sudah begini,
Ku takkan pernah peduli
Biar manunggal Sang pncipta waktu
sebagai peneduh bagi ragaku
Ku mau selamanya sendiri
Apalah arti keselarasan
tanpa penjewantahan aku & kau menjadi kita,
Saat terkulai aku dalam ketidakberdayaaan
Meracau kau dengan seribu alasan!
Menasbihkan kita dalam kepura-puraan!
Dan kalau sudah begini,
Ku mau kau pergi!
Apalah arti keberduaan,
tanpa ketulusan cinta
Dimana egomu,
pun ku mengalahkan segala,
Ah,
kalau sudah begini,
Ku takkan pernah peduli
Biar manunggal Sang pncipta waktu
sebagai peneduh bagi ragaku
Retak
Di retaknya cermin,
retak kata retak segala!
Dan sungguh aku tak lagi bisa menulis puisi tentangnya
Entah ini pertanda apa,
Mungkinkah kerna puisi renjana hanya untuk mereka-
yang dalam hatiku takkan pernah rebah
Mungkinkah?!
Kucoba berkali-kali tuk mengeja setiap kata
Tapi tak satupun yg bisa menggambarkanya,
tentang dirinna,
tentang lakunya,
tentang adanya oh tentang
Tak satupun kata tertuang
Tak satu pun!
retak kata retak segala!
Dan sungguh aku tak lagi bisa menulis puisi tentangnya
Entah ini pertanda apa,
Mungkinkah kerna puisi renjana hanya untuk mereka-
yang dalam hatiku takkan pernah rebah
Mungkinkah?!
Kucoba berkali-kali tuk mengeja setiap kata
Tapi tak satupun yg bisa menggambarkanya,
tentang dirinna,
tentang lakunya,
tentang adanya oh tentang
Tak satupun kata tertuang
Tak satu pun!
Jerit Hati
Pagiku lepas terhempas di terjalnya bebatuan
Terik siang tak lagi mampu membuat hangat tubuhku,
yang pada gigil ia memikul bakul penuh kesakitan
Banyak PESAN ku kirimkan untukmu duhai Rajaku seorang
Itulah AKU,
Bukannya mengelak guratan firman Tuhan
BUKAN!
Itulah perasanku,
Sebab jerit hati tak pernah BISA menipu
Dan itulah isi hatiku : kerna bicara kadang membuat LIDAH ini kelu!
Terik siang tak lagi mampu membuat hangat tubuhku,
yang pada gigil ia memikul bakul penuh kesakitan
Banyak PESAN ku kirimkan untukmu duhai Rajaku seorang
Itulah AKU,
Bukannya mengelak guratan firman Tuhan
BUKAN!
Itulah perasanku,
Sebab jerit hati tak pernah BISA menipu
Dan itulah isi hatiku : kerna bicara kadang membuat LIDAH ini kelu!
Killing Me with This Poem
MAUKU
Mau aku
Mau lumuri yg kumau dg mauku maupun Tak
Aku mau meski mau tak lagi mau
Bulan belah luruh gelap pekat tak lagi bulat
Pun mauku tetap mau dan mau
Redup lintang jenuh galau menyapu sayup tak lagi kuyup
Mauku tak jg lelap dan kian kasat menyengat
Mau pada mau aku merutuk suntuk
Sebab mauku mau Zion melekat padat pd Zionis Zindik dg angkuh Zirah yg merenggut Zirbad
Menoreh kornea menelan luka dg air mata
Dan ganoid logika tak lagi bekerja
Tumbang rebah penuh magenta dalam lena!
Lelah
Luap berdarah darah
Duhai Mayapada!
Yang aku mau,
Bukan mau yg membutakanku
Duhai!
Aku mau Tuhan bunuh mauku
Sungguh aku MAU!
T_T
.
(Malang, BLUISH BLUE 20 OcT. 08)
Mau aku
Mau lumuri yg kumau dg mauku maupun Tak
Aku mau meski mau tak lagi mau
Bulan belah luruh gelap pekat tak lagi bulat
Pun mauku tetap mau dan mau
Redup lintang jenuh galau menyapu sayup tak lagi kuyup
Mauku tak jg lelap dan kian kasat menyengat
Mau pada mau aku merutuk suntuk
Sebab mauku mau Zion melekat padat pd Zionis Zindik dg angkuh Zirah yg merenggut Zirbad
Menoreh kornea menelan luka dg air mata
Dan ganoid logika tak lagi bekerja
Tumbang rebah penuh magenta dalam lena!
Lelah
Luap berdarah darah
Duhai Mayapada!
Yang aku mau,
Bukan mau yg membutakanku
Duhai!
Aku mau Tuhan bunuh mauku
Sungguh aku MAU!
T_T
.
(Malang, BLUISH BLUE 20 OcT. 08)
Selasa, 22 Desember 2009
PADA PECUNDANG
Lelaki datang atas nama cinta
Dan lelaki pergi pun atas nama cinta
Dan aku yg terlahir wanita bukan berarti selalu pasrah,
Dengar,
Telah tergambar gurat kepalsuan di wajahmu,
Seperti bilurya bulan yg menipu mata dengan kesempurnaan,
Yang pada Surya ia meretas cahaya,
Lalu mengapa masih saja kau pertanyakan?
Sebab kepergianku adalah sebuah aksioma!
Yang meninggalkan hati untuk dicela,
Tapi pasti ku kan kembali dalam satu masa,
Untuk mempertanyakan lagi tentang janjimu,
tentang merahnya cinta yang kau tanamkan dalam darahku,
PASTI!
Dan lelaki pergi pun atas nama cinta
Dan aku yg terlahir wanita bukan berarti selalu pasrah,
Dengar,
Telah tergambar gurat kepalsuan di wajahmu,
Seperti bilurya bulan yg menipu mata dengan kesempurnaan,
Yang pada Surya ia meretas cahaya,
Lalu mengapa masih saja kau pertanyakan?
Sebab kepergianku adalah sebuah aksioma!
Yang meninggalkan hati untuk dicela,
Tapi pasti ku kan kembali dalam satu masa,
Untuk mempertanyakan lagi tentang janjimu,
tentang merahnya cinta yang kau tanamkan dalam darahku,
PASTI!
REMUK
Aku di persimpangan Jalan
Antara ragu dan ketidakpastian
Tak tahu arah,
kemana kakiku melangkah
Dan jika memang harus aku melawan arus
Mampukah ku bertahan laksa kaktus?
Sebab kini aku remuk
Menyisakan amuk
Menelan pahitnya lumer empedu yg kau sebut madu!
Antara ragu dan ketidakpastian
Tak tahu arah,
kemana kakiku melangkah
Dan jika memang harus aku melawan arus
Mampukah ku bertahan laksa kaktus?
Sebab kini aku remuk
Menyisakan amuk
Menelan pahitnya lumer empedu yg kau sebut madu!
Amukku di Muka
Aku tak PEDULI,
meski sungguh kalap kau koyak moyak kebahagiaan hidup atas ragaku
Tak kan pernah!
Pun,
dengan pongah tanpa susah,
mungkin saja kau bisa hancurkan SEGALA apa yang ku PUNYA yang ku CINTA
Tapi TIDAK dengan MIMPI-ku
Tidak akan pernah!
meski sungguh kalap kau koyak moyak kebahagiaan hidup atas ragaku
Tak kan pernah!
Pun,
dengan pongah tanpa susah,
mungkin saja kau bisa hancurkan SEGALA apa yang ku PUNYA yang ku CINTA
Tapi TIDAK dengan MIMPI-ku
Tidak akan pernah!
SELALU
Selalu saja begitu,
Mendapatimu, dia dan juga ribuan LELAKI lainnya
Mencintai rapuh ragaku dg ketidakpastian,
Dan selalu saja begitu,
Mendapatimu, dia dan juga ribuan LELAKI lainnya
Menjanjikan wangi sorga dg mulut penuh busa,
Duhai!
Adakah yang lebih berarti?
Untuk sekedar Mengerti,
Bahwa sejatinya aku, dia, dan selayaknya tiap tiap WANODYA,
Tak pernah butuh CINTA
melainkan dg keniscayaan,
Tak Pernah!!
Mendapatimu, dia dan juga ribuan LELAKI lainnya
Mencintai rapuh ragaku dg ketidakpastian,
Dan selalu saja begitu,
Mendapatimu, dia dan juga ribuan LELAKI lainnya
Menjanjikan wangi sorga dg mulut penuh busa,
Duhai!
Adakah yang lebih berarti?
Untuk sekedar Mengerti,
Bahwa sejatinya aku, dia, dan selayaknya tiap tiap WANODYA,
Tak pernah butuh CINTA
melainkan dg keniscayaan,
Tak Pernah!!
Langganan:
Postingan (Atom)